Resensi Kisah Pancasila
Judul Buku : KISAH PANCASILA
Penulis Buku : Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila
Penerbit : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 101 (dengan 4 halaman pendahuluan)
PENDAHULUAN
Saya tidak menemukan informasi banyak tentang buku ini, tetapi setelah saya menelusuri lebih lanjut, saya menemukan penulis di sebuah web yang meliputi secara singkat tentang buku ini. Buku ini adalah “hadiah”untuk para peserta yang hadir pada acara Pameran Hari Lahir Pncasila di Museum Nasional Indonesia di Jalan Merdeka Barat pada tanggal 2 Juni 2017. Pameran itu diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjen Kebudayaan), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan MNI (Museum Nasional Indonesia). Buku yang disusun oleh Panita Peringatan Hari Lahir Pancasila ini berisi tentang berbagai macam hal yang berhubungan dengan Pancasila. Mulai dari ikon Pancasila di setipa ruang kelas, inspirasi Pancasila dalam pengasingan, serta inspirasi dari pembuatan lagu “garuda Pancasila”. Dilengkapi pula dengan sejumlah lampiran yang juga ditampilkan dalam pameran di MNI tersebut. Di antaranya arsip-arsip tentang agenda acara sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dilaksanakan akhir Mei sampai awal Juni 1945. Pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, mengemukakan pemikirannya tentang dasar negara yang disebutnya dengan Pancasila.
SINOPSIS
Pasti di setiap ruang kelas sekolah kalian, kelain pernah melihat suatu patung yang berbentuk burung garuda bukan? Burung garuda tersebut adalah lambing negara kita yaitu Indonesia. Jadi sang burung yang bernama Garuda Pancasila itu adalah perlambang dari bangsa kita seluruhnya. Kita adalah bangsa Indonesia yang merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kita adalah burung garuda yang gagah dan cemerlang itu. Kita adalah bangsa muda yang belum lama merdeka dan dengan penuh harap menatap masa depan. Kita tidak takut berhadapan dengan dunia karena kita terdiri dari beragam etnis, agama dan pandangan hidup. Kita tidak takut bersanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia karena kita kaya akan perbedaan. Kita berbeda-beda tapi tetap satu juga. Itulah semboyan negara kita, yang direntangkan sang garuda dalam sehelai kain putih: “Bhinneka Tunggal Ika”. Membaca kisah Pancasila adalah membaca kisah perjuangan rakyat menghancurkan kolonialisme Belanda dan membangun Negara Indonesia Merdeka. Perlawanan terhadap penjajahan telah meletus di berbagai daerah sepanjang kepulauan Nusantara. Di Aceh kita punya Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, dua perempuan gagah berani yang mengorbankan nyawa demi mengusir penjajah. Di Ambon, kita punya Martha Christina Tiahahu yang berontak terhadap penindasan Belanda atas masyarakat Maluku. Di Jawa, kita punya Nyi Ageng Serang, perempuan cerdik ahli siasat perang gerilya kepercayaan Pangeran Diponegoro, yang gigih melawan penyerobotan tanah yang dilakukan penjajah Belanda. Di Kalimantan, kita punya Pangeran Antasari bertempur melawan Belanda di sepanjang sungai Barito. Di Sulawesi, kita punya Pong Tiku, seorang gerilyawan piawai yang tak henti-hentinya membuat penjajah kesulitan menancapkan kaki di Tana Toraja. Dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-19, pengorbanan para pahlawan kita tak berhasil mengusir penjajah Belanda. Apa sebabnya? Tak lain karena perjuangan kita terpecah-pecah,dijalankan sendiri-sendiri pada tiap-tiap wilayah. Setiap pahlawan berjuang untuk masyarakat di daerahnya. Mereka belum mengikatkan diri dalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Mereka belum berjuang sebagai bangsa Indonesia yang satu. Penjajah Belanda menuai keuntungan dari kondisi masyarakat Nusantara yang terpecah belah. Bahkan tak jarang pula mereka memanfaatkan perbedaan itu demi menyulut perpecahan di antara masyarakat Nusantara sendiri. Agar masyarakat Nusantara tidak bersatu melawan Belanda, maka penjajah menanamkan ketidaksukaan antar daerah, prasangka antar etnis, kecurigaan antar pemeluk agama di Nusantara. Sebab mereka tahu, penjajahan hanya bisa langgeng kalau masyarakat yang terjajah itu terus terpecah-belah. Pada bab 3 dibahas tentang lahirnya Pancasila yang dimana perjuangan para tokoh sangat mengsinpirasi. Menjelang tahun 1945, Jepang mengalami kekalahan di Asia Timur Raya. Jepang banyak menggunakan cara untuk menarik simpati khususnya kepada bangsa Indonesia dengan membuat suatu janji bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang diucapkan oleh Perdana Menteri Kuniaki Koiso pada tanggal 7 September 1944. Dikutip dari buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan PPKn Siswa 2017, janji yang ditawarkan adalah Jepang akan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan nama Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Hal ini direalisasikan oleh Kaiso pada 29 April 1945 dengan jumlah anggota 62 orang. Diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat, anggota BPUPKI terdiri dari dua wakil ketua, yaitu Ichibangase Yosio (Jepang) dan R.P Soeroso, tokoh-tokoh bangsa Indonesia dan tujuh orang anggota perwakilan dari Jepang. Secara garis besar, tugas BPUPKI adalah menyelidiki dan menyusun rencana mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia. Maklumat yang sama memaparkan tugas BPUPKI: mempelajari semua hal penting terkait politik, ekonomi, tata usaha pemerintahan, kehakiman, pembelaan negara, lalu lintas, dan bidang-bidang lain yang dibutuhkan dalam usaha pembentukan negara Indonesia (Asia Raya, 29 April 1945). BPUPKI mengadakan sidang sebanyak dua kali sidang resmi dan satu kali sidang tidak resmi. Sidang resmi pertama dilaksanakan tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945 yang membahas tentang dasar negara. Pada sidang tidak resmi, BPUPKI membahas perancangan Undang-Undang Dasar 1945 yang dipimpin Soekarno dan dihadiri oleh hanya 38 orang. Sidang BPUPKI I (29 Mei-1 Juni 1945) Mengutip "Sejarah Perumusan Pancasila dalam Hubungannya dengan Proklamasi" oleh Darsita, dalam sidang yang pertama, hari pertama, 29 Mei 1945 bahwa Indonesia membutuhkan dasar negara. Para tokoh-tokoh pendiri negara mulai mengusulkan rumusan dasar negara yang isinya berbeda-beda namun tetap memiliki persamaan yaitu didasari oleh gagasan besar bangsa Indonesia dan kepribadian bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang mengemukakan pendapatnya adalah Mohammad Yamin. Disini, ia mengemukakan bahwa dasar negara terdiri dari 5 asas yaitu: Peri Kebangsaan Peri Kemanusiaan Peri Ketuhanan Peri Kerakyatan Kesejahteraan Rakyat. Kemudian, pada hari ketiga sidang pertama, 31 Mei 1945, Soepomo mengemukakan pendapat dalam pidatonya yang menyatakan bahwa negara Indonesia merdeka adalah dengan mengatasi segala golongan dan pemahaman untuk mempersatukan lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini, dirumuskan dalam 5 poin yaitu: Persatuan Kekeluargaan Keseimbangan lahir dan batin Musyawarah Keadilan rakyat Pada hari terakhir dari sidang pertama, 1 Juni 1945, Soekarno turut mengemukakan pendapatnya dalam sebuah pidato yang diberi nama Pancasila atas usulan dari seorang teman, ahli bahasa. Rumusan dasar negara dalam 5 sila tersebut, yaitu: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau peri kemanusiaan Mufakat atau demokrasi Kesejahteraan sosial Ketuhanan yang berkebudayaan Sidang BPUPKI II (10-16 Juni 1945) Setelah sidang pertama selesai, Indonesia belum mencapai kesepakatan akhir. Karena hal itu, BPUPKI membentuk panitia kecil yang beranggotakan 9 orang, di bawah pimpinan Soekarno, dengan anggota terdiri atas Ki Bagoes Hadikoesoemo, Wachid Hasjim, Muhammad Yamin, Abdulkahar Muzakir, Sutardjo Kartohadikoesoemo, A.A Maramis, Otto Iskandardinata dan Mohammad Hatta. Dalam buku "Aku Warga Negara Indonesia untuk SD/MI Kelas VI" karya Ika Kartika Sari dan Elly Malihah Setiadi disebutkan, panitia yang diberi nama Panitia Sembilan ini, dibentuk dengan tujuan merumuskan rumusan-rumusan yang telah dibicarakan agar menjadi kesepakatan yang lebih jelas. Untuk mewujudkan hal tersebut, diadakan sidang kedua pada 10 Juni sampai dengan 16 Juni 1945. Setelah melewati pelbagai pertimbangan dan diskusi, pada 22 Juni 1945 berhasil merumuskan dasar negara untuk Indonesia merdeka yang diberi nama Piagam Jakarta oleh M. Yamin yang didalamnya berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‟at Islam bagi para pemeluk-pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Walaupun sudah dirumuskan, bukan berarti rumusan Pancasila mendapatkan kesepakatan final. Karena, belum adanya perwakilan yang representatif yang mewakili dari berbagai unsur. berakhirnya kerja BPUPKI pada 7 Agustus 1945, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 9 Agustus 1945. Diketuai Soekarno dan wakilnya Moh. Hatta, PPKI bertujuan untuk mempercepat persiapan kemerdekaan Indonesia. Panitia ini beranggotakan 21 orang yang semua anggotanya terdiri 12 orang Jawa, 3 orang Sumatera, 2 orang Sulawesi, 1 orang Kalimantan, 1 orang Nusa Tenggara, 1 orang Maluku, dan 1 orang peranakan Tionghoa. Namun tanpa sepengetahuan Jepang, Soekarno menambah 6 orang lagi, sehingga total ada 27 anggota. Setelah Jepang menyerah terhadap Sekutu, disitulah Indonesia mengambil kesempatan untuk mendeklarasikan kemerdekaan yang sebelumnya dijanjikan oleh Jepang pada 24 Agustus 1945. Dengan merdekanya Indonesia pada 17 Agustus 1945, PPKI berhasil merumuskan dan menyesahkan dasar negara Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada 18 Agustus 1945, bunyinya: Ketuhanan Yang Maha Esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaran/perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan yang terakhir di buku ini disajikan berbagai macam lampiran yang dipamerkan di MNI seperti proklamasi kemerdekaan, transkrip proklmasi dalam Bahasa inggris, dan lain-lain.
KELEBIHAN
buku ini sangat amat informative, karena buku ini menyajikan Pancasila dari segala aspek yang ada. Mulai dari aspek kehidupan sehari-hari hingga perjuangan yang dialami untuk merumuskan lima sila ini. Dan juga buku ini mempermudah pembaca yang tidak belum pernah datang ke MNI melihat pameran transkrip yang di pamerkan di MNI. Buku ini juga sangat menyenangkan di baca, walaupun saya membaca buku ini untuk tugas sekolah saya, tapi saya tetap dengan senang membaca buku ini. Buku ini menyajikan kisah perjalanan Pcasilaan dalam bentuk yang ringkas dan dengan bahasa yang lebih populer agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas. Buku ini diharapakan dapat menjadi referensi yang dapat menguatkan kesadaran berbangsa.
KEKURANGAN
Buku ini sayangnya tidak diperjual belikan, karena buku ini hanyalah souvenir untuk pengunjung MNI yang dating ke pameran hari lahir Pancasila. Walaupun buku ini sangat informative, tetapi sangat disayangkan kalau buku ini tidak di publikasikan
Komentar
Posting Komentar